Bagaimana Seharusnya Pedoman Tata Laksana Gereja Dibuat?
3 September 2026, 11:11

47
Oleh: Iswara Rintis Purwantara
Bertahun-tahun yang lalu, penulis pernah diminta oleh Departemen Pendidikan GGBI untuk menjadi salah satu anggota tim perumus Pernyataan Asas-Asas Kepercayaan GGBI atau doctrinal statement (pernyataan doktrinal). Tugas tersebut merupakan tindak lanjut dari keputusan Kongres IX GGBI tahun 2010. Penulis bersedia. Namun, selama proses tersebut, ada beberapa kenyataan yang cukup mengherankan dan kemudian terus mengganjal dalam pikiran.
Pada waktu itu terdapat dua tim yang bekerja secara bersamaan. Pertama, tim perumus doctrinal statement (pernyataan doktrinal) GGBI, yaitu tim tempat penulis terlibat. Kedua, tim penyusun Pedoman Tata Gereja Baptis Indonesia (PTGBI), yang juga dibentuk sebagai tindak lanjut Kongres IX. Kedua tim bahkan terkadang bekerja di gedung yang sama, tetapi di ruangan yang berbeda. Namun, sejauh yang penulis alami, kedua tim tidak pernah bertemu secara khusus untuk membicarakan hubungan antara pekerjaan masing-masing. Memang ada beberapa orang yang menjadi anggota dalam kedua tim, tetapi hal itu tampaknya tidak menghasilkan suatu proses kerja bersama yang terintegrasi.
Yang lebih mengherankan, tim penyusun pedoman tata gereja menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Hasilnya diterbitkan dalam bentuk buku pada tahun 2013, sementara tim perumus doctrinal statement belum menyelesaikan pekerjaannya. Ketika kemudian kedua tim mensosialisasikan hasil kerja kepada gereja-gereja melalui forum BPD, sering kali keduanya mempresentasikan materi dalam kesempatan yang sama. Namun, masing-masing tampaknya berjalan dengan materi dan kerangkanya sendiri. Pengalaman tersebut membawa penulis pada satu pertanyaan mendasar: apakah kita sungguh-sungguh memahami bagaimana seharusnya sebuah pedoman tata gereja dibuat?
Tata Gereja Tidak Muncul Begitu Saja
Tata gereja tidak muncul ex nihilo (dari ketiadaan). Tata gereja merupakan konsekuensi dari doktrin gereja, sebagaimana doktrin gereja merupakan konsekuensi dari pemahaman terhadap Alkitab. Demikian pula tata ibadah dan tata pemerintahan gereja. Semua itu merupakan ekspresi nyata dari teologi atau doktrin yang diyakini oleh sebuah gereja. Secara sederhana, tata gereja adalah segala sesuatu yang kita praktikkan berdasarkan doktrin gereja. Sementara itu, doktrin gereja adalah segala sesuatu yang kita yakini atau imani berdasarkan Alkitab.
Karena itu, secara noetic (berkaitan dengan urutan pemahaman dan pengetahuan), urutannya adalah: Alkitab → Doktrin Gereja → Tata Gereja. Alkitab mendahului doktrin gereja, dan doktrin gereja mendahului tata gereja. Hubungan yang bersifat berurutan dan konsekuensial ini tidak dapat dibalik. Tidak mungkin ada tata gereja yang benar tanpa doktrin gereja yang sehat, sebagaimana tidak mungkin ada doktrin gereja yang sehat tanpa dasar Alkitab.
Doktrin Menentukan Praktik
Di dalam kehidupan gereja, doktrin seharusnya menentukan praktik. Memang sangat mungkin seseorang atau sebuah gereja memiliki doktrin yang benar, tetapi tidak menjalani kehidupan yang benar. Namun, kita harus ingat bahwa tanpa doktrin yang benar, tidak mungkin ada kehidupan yang benar secara konsisten. Hubungan antara doktrin dan praktik pernah digambarkan oleh Talbot W. Chambers, sebagaimana dikutip oleh teolog Baptis Augustus Strong: “Doctrine without duty is a tree without fruits; duty without doctrine is a tree without roots.” (Doktrin tanpa tindakan adalah pohon tanpa buah; tindakan tanpa doktrin adalah pohon tanpa akar.)
Sehat atau sakitnya sebuah pohon memang terlihat dari buahnya, namun ditentukan oleh akarnya. Demikian pula dengan gereja. Sehat atau sakitnya sebuah gereja akan terlihat dari kehidupan sehari-harinya, namun ditentukan oleh akarnya, dan akarnya itu adalah doktrinnya. Karena itu, bagaimana mungkin sebuah gereja merumuskan tata gerejanya tanpa mengacu dan mendasarkan diri pada doktrin gerejanya? Jika doktrin gereja benar, maka tata gereja juga akan benar. Sebaliknya, jika doktrin gereja salah, tata gereja yang dibangun di atasnya pun akan bermasalah.
Namun, ada pertanyaan lain yang perlu diajukan: apakah mungkin doktrin sebuah gereja sudah benar, tetapi tata gerejanya tetap salah? Jawabannya: ya, mungkin saja. Hal itu dapat terjadi ketika tata gereja tidak dibangun berdasarkan doktrin gereja, melainkan berdasarkan sesuatu yang lain—misalnya pertimbangan pragmatis, kebiasaan organisasi, atau kebutuhan sesaat.
Mengapa Tata Gereja Baptis Harus Berangkat dari Doktrin Baptis?
Doktrinlah, bukan bentuk organisasi (organisasi hanyalah konsekuensi dari doktrin), yang membedakan satu denominasi dengan denominasi lainnya. Karena itu, tata gereja Baptis harus dibuat sesuai dengan dan berdasarkan doktrin gereja Baptis. Jika tidak, atas dasar apa tata gereja tersebut dapat disebut sebagai tata gereja Baptis?
Kembali kepada persoalan yang lebih konkret, sebenarnya kecenderungan ini bukan sesuatu yang baru. Pada tahun 1991, Badan Pengurus Pusat GGBI—sebuah nama yang kemudian berubah menjadi Badan Pengurus Nasional—menerbitkan buku berjudul Tata Kerja BPG–BPP–BPD. Membaca isinya, penulis melihat adanya pendekatan yang sangat pragmatis dan tidak sungguh-sungguh dibangun berdasarkan doktrin Baptis tentang gereja. Hal yang sama juga penulis temukan dalam buku Pedoman Pejabat Gereja yang diterbitkan oleh Departemen Kependetaan BPD GGBI pada tahun 2011. Buku tersebut, menurut penulis, belum sungguh-sungguh berangkat dari eklesiologi (doktrin tentang gereja) Baptis.
Kemudian diterbitkan revisinya dalam bentuk buku Tata Laksana Pejabat Gereja Baptis Indonesia pada tahun 2017. Namun, menurut penulis, persoalannya tetap sama. Perubahan yang terjadi lebih merupakan pengembangan dari kerangka sebelumnya daripada sebuah revisi mendasar. Dalam pengertian ini, istilah “revisi” perlu dipahami dengan lebih serius.
Revisi Harus Memiliki Parameter
Setiap revisi harus memiliki parameter. Dalam hal tata gereja, parameternya tidak lain adalah doktrin gereja yang bersangkutan. Sebagaimana doktrin gereja harus terus dikoreksi oleh Alkitab, demikian pula tata gereja harus terus dikoreksi oleh doktrin gereja.
Urutannya tetap jelas: Alkitab mengoreksi doktrin gereja, dan doktrin gereja mengoreksi tata gereja. Ketika teologi biblika maju, teologi sistematika atau doktrin gereja pun dapat ikut maju. Ketika doktrin gereja mengalami pendalaman dan pembaruan berdasarkan Alkitab, tata gereja pun perlu dievaluasi dan disesuaikan. Namun, tanpa adanya dasar doktrinal yang jelas, revisi tata gereja dapat berubah menjadi sesuatu yang terlalu mengada-ada. Demikian pula, tanpa dasar dan koreksi dari Alkitab, perubahan terhadap doktrin gereja akan kehilangan parameternya.
Karena itu, perubahan tidak boleh sekadar terjadi karena kita merasa sesuatu sudah tidak praktis, kurang sesuai dengan kebiasaan masa kini, atau karena organisasi membutuhkan bentuk baru. Pertanyaannya harus selalu lebih mendasar: Apakah perubahan itu sesuai dengan doktrin gereja yang dibangun berdasarkan Alkitab?
Konteks Bukan Penentu Teks
Buku Tata Laksana Pejabat Gereja Baptis Indonesia yang disosialisasikan baru-baru ini juga tampaknya merupakan pengembangan dari versi-versi sebelumnya. Kali ini, terdapat pergeseran motif. Kata kuncinya adalah “konteks”, dalam hal ini dinamika masa kini. Tentu saja gereja tidak boleh menutup mata terhadap konteks. Gereja hidup di tengah dunia nyata dan menghadapi perubahan zaman. Namun, ada satu hal penting yang perlu dipahami: konteks bukanlah jawaban. Konteks adalah sesuatu yang harus dijawab. Jawaban itu bukan berasal dari konteks itu sendiri, melainkan dari teks—yaitu Alkitab.
Karena itu, kontekstualisasi tidak berarti konteks menentukan teks. Tekslah yang harus menentukan konteks. Alkitab memberikan dasar. Doktrin gereja merumuskan keyakinan berdasarkan dasar tersebut. Tata gereja kemudian menjadi ekspresi nyata dari keyakinan itu dalam kehidupan gereja. Doktrin harus tetap mendahului praktik, dan Alkitab harus tetap menjadi dasar bagi keduanya.
Jika gereja ingin memiliki tata laksana yang benar-benar sehat, maka pertanyaan pertama yang harus diajukan bukanlah, “Apa yang paling sesuai dengan kebutuhan zaman?” Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: “Apa yang kita yakini tentang gereja berdasarkan Alkitab?” Dari sanalah seharusnya pedoman tata laksana gereja dibangun.
Belanja
Akun
Sumber
Support
Copyright © 2026 Kabaria