PENGINJILAN - 9Marks: Gereja yang Sehat Bukan Hanya Memiliki Program Penginjilan
3 September 2026, 11:27

43
Sudahkah gereja kita benar-benar memiliki budaya penginjilan?
Banyak gereja memiliki program penginjilan. Ada kebaktian penginjilan, pelatihan, kunjungan, pembagian traktat, pelayanan masyarakat, hingga berbagai kegiatan untuk menjangkau orang-orang yang belum mengenal Kristus.
Semua itu tentu dapat menjadi hal yang baik. Namun, ada sebuah pertanyaan yang lebih mendasar:
Apakah banyaknya program penginjilan berarti sebuah gereja telah memiliki budaya penginjilan?
J. Mack Stiles, dalam bukunya Penginjilan (Evangelism): Bagaimana Agar Seluruh Jemaat Berbicara tentang Yesus, mengajak gereja untuk memikirkan kembali pertanyaan tersebut.
Buku ini tidak sekadar membahas bagaimana melakukan penginjilan. Lebih dari itu, buku ini berbicara tentang bagaimana membangun budaya penginjilan dalam kehidupan seluruh gereja.
Salah satu persoalan dalam penginjilan adalah pemahaman yang keliru tentang apa sebenarnya yang dimaksud dengan “menginjili”.
Dalam upaya menjangkau orang lain, gereja dapat dengan mudah mengandalkan berbagai strategi komunikasi, teknik pemasaran, kemampuan berbicara, atau metode untuk meyakinkan seseorang. Semua hal tersebut mungkin memiliki manfaat, tetapi tidak dapat menggantikan hal yang paling utama: Injil itu sendiri.
Stiles memberikan gambaran yang menarik.
Seorang ibu rumah tangga yang sedang berbicara dengan temannya di sebuah kedai kopi mungkin saja sedang melakukan penginjilan. Sebaliknya, seorang ahli apologetika Kristen yang berbicara kepada ribuan orang di sebuah gereja belum tentu sedang menginjili apabila ia tidak menjelaskan Injil.
Mengapa?
Karena penginjilan tidak dapat dipisahkan dari Injil.
Membela iman Kristen adalah hal yang baik. Namun, kita dapat membela Kekristenan tanpa menjelaskan Injil. Sementara itu, kita tidak mungkin melakukan penginjilan tanpa memberitakan Injil.
Karena itu, gereja perlu kembali memahami hal-hal mendasar: Apa itu penginjilan? Apa itu pertobatan? Dan apa sebenarnya Injil?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana ini justru sangat penting. Sebab, ketika pengertian kita tentang Injil mulai kabur, praktik penginjilan pun dapat perlahan bergeser dari apa yang diajarkan Alkitab.
Gagasan menarik lainnya dalam buku ini adalah bahwa budaya penginjilan tidak sama dengan banyaknya program penginjilan.
Bahkan, Stiles mengatakan bahwa ada gereja yang mungkin perlu mengurangi program penginjilan mereka.
Pernyataan ini terdengar mengejutkan. Bukankah gereja seharusnya semakin giat melakukan penginjilan?
Tentu saja.
Namun persoalannya bukan apakah gereja memiliki cukup banyak kegiatan, melainkan apakah setiap orang percaya memahami bahwa menjadi saksi Kristus merupakan bagian dari kehidupannya sebagai seorang Kristen.
Bayangkan sebuah gereja di mana penginjilan tidak hanya muncul ketika ada program khusus.
Jemaat belajar berbicara tentang Yesus dalam kehidupan sehari-hari. Orang-orang percaya mendoakan mereka yang belum mengenal Kristus. Orang tua mengajarkan anak-anak mereka untuk tidak malu berbicara tentang iman. Kaum muda belajar melihat sekolah, kampus, tempat kerja, dan pergaulan mereka sebagai kesempatan untuk menjadi saksi Kristus.
Dalam gereja seperti itu, penginjilan bukan lagi sekadar sebuah agenda.
Penginjilan menjadi bagian dari DNA gereja.
Judul asli buku ini adalah Evangelism: How the Whole Church Speaks of Jesus—Bagaimana Seluruh Gereja Berbicara tentang Yesus.
Frasa “seluruh gereja” menjadi sangat penting.
Penginjilan bukan hanya tanggung jawab pendeta.
Bukan hanya tugas penginjil.
Bukan pula hanya bagi orang-orang yang memiliki kemampuan berbicara atau merasa memiliki “bakat penginjilan”.
Setiap orang percaya memiliki panggilan untuk menjadi saksi Kristus.
Hal ini sejalan dengan panggilan Alkitab kepada gereja. Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk pergi dan menjadikan semua bangsa murid-Nya (Mat. 28:18–20). Petrus mengingatkan orang percaya untuk menggunakan karunia yang telah diterima untuk melayani sesama (1Ptr. 4:10). Paulus mendorong gereja untuk bertumbuh menuju kedewasaan dengan mengatakan kebenaran dalam kasih (Ef. 4:13, 15).
Dengan demikian, membangun gereja yang sehat bukan hanya pekerjaan para pemimpin gereja. Setiap anggota jemaat memiliki bagian di dalamnya.
Termasuk dalam membangun budaya penginjilan.
Penginjilan (Evangelism) membawa pembaca memahami dasar-dasar penting yang sering kali terabaikan dalam kehidupan gereja.
Stiles membahas bagaimana mempersiapkan diri untuk penginjilan yang memiliki tujuan, menjalani kehidupan yang dibentuk oleh Injil, tidak berasumsi bahwa orang lain telah memahami Injil, serta memandang penginjilan sebagai sebuah disiplin rohani.
Ia juga menekankan pentingnya doa dan kepemimpinan yang Injili, serta bagaimana orang percaya dapat hidup sebagai duta-duta Kristus di tengah dunia yang tercemar oleh dosa.
Yang menarik, Stiles sendiri tidak menggambarkan dirinya sebagai seorang penginjil yang luar biasa. Ia dengan jujur mengakui rasa takut, kegagalan, dan keterbatasannya ketika berbicara mengenai hal-hal rohani.
Namun, setelah bertahun-tahun melayani mahasiswa dan merintis gereja, ia melihat satu hal yang dapat ia lakukan: membangun komunitas yang memiliki penginjilan di dalam DNA mereka.
Dan semangat itulah yang ia bagikan melalui buku ini.
Buku ini cocok bagi pendeta, majelis, pemimpin pelayanan, pemimpin kaum muda, maupun setiap anggota jemaat yang ingin memahami kembali panggilan gereja untuk memberitakan Injil.
Bukan supaya gereja memiliki lebih banyak kegiatan.
Bukan supaya jemaat menjadi semakin sibuk.
Tetapi supaya gereja kembali memiliki kehidupan yang berpusat pada Injil dan seluruh jemaat belajar berbicara tentang Yesus.
Mungkin pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan lagi:
“Berapa banyak program penginjilan yang dimiliki gereja kita?”
Melainkan:
“Apakah gereja kita sedang membentuk orang-orang yang berbicara tentang Yesus?”
Jika pertanyaan itu sedang Anda gumulkan, Penginjilan (Evangelism): Bagaimana Agar Seluruh Jemaat Berbicara tentang Yesus karya J. Mack Stiles layak menjadi salah satu buku yang Anda baca—dan diskusikan bersama gereja Anda.
Untuk pemesanan, hubungi Ibu Kiki – Admin Toko Buku Baptis:
WhatsApp: +62 812-1212-5116
Atau pesan melalui Shopee Toko Buku Baptis
Penginjilan bukan sekadar program gereja.
Mari membangun gereja yang menjadikan Injil sebagai bagian dari DNA-nya.
Belanja
Akun
Sumber
Support
Copyright © 2026 Kabaria